Our Spot
IBU PERTIWI
Filosofi
IBU PERTIWI
Pertiwi (dalam Bahasa Sanskerta: pṛthvī, atau juga pṛthivī) adalah Dewi dalam agama Hindu dan juga “Ibu Bumi” (atau dalam bahasa Indonesia “Ibu Pertiwi”). Sebagai pṛthivī mātā “Ibu Pertiwi” merupakan lawan dari dyaus pita “Bapa Angkasa”. Dalam Rgveda, Bumi dan Langit seringkali disapa sebagai pasangan, mungkin hal ini menekankan gagasan akan dua paruh yang saling melengkapi satu sama lain. Pertiwi juga dinamakan Dhra, Dharti, Dhrthri, yang faedahnya kurang semakin “yang memegang semuanya”. Sebagai Prthvi Devi, dia adalah salah satu dari dua sakti Batara Wisnu. Sakti lainnya adalah Laksmi.
Prthvi adalah bentuk lain Laksmi. Nama lain baginya adalah Bhumi atau Bhudevi atau Bhuma Devi.
Dari penjelasan tersebut, Sari Timbul mencoba merealisasikannya dalam sebuah karya seni “Ibu Pertiwi” yang di kombinasikan patung kayu, di kelilingi akar, pohon, tumbuh-tumbuhan, dan dikelilingi kolam air mengalir.
Patung Dewi Pertiwi:
Patung Muka dewi dibuat dari kayu Jéci, yang tersenyum menggambarkan seorang Ibu yang menyambut semuanya datang masuk kedalam keindahan Ibu Pertiwi (Bumi).
Wajah Patung Ibu Pertiwi Yang terinspirasi dari seorang ibu yang merestui langkah anaknya merealisasikan sebuah karya dan selalu menyambut dengan senyuman ketika anaknya datang kerumah. Sari Timbul, mengharapkan siapa saja yang memasuki tempat ini, agar merasakan masuk kedalam keindahan dan kasih sayang Ibu pertiwi (seorang Ibu).
Akar:
Akar melambangkan kekuatan, Ketulusan, dan ke iklasan yang sangat luar biasa, Karena Akar adalah bagian dari tumbuhan yang tumbuh, berkembang dan menjalar ke dalam tanah. Akar selalu bekerja siang dan malam mencari air dan nutrisi yang ada di dalam tanah, yang hasilnya dibutuhkan oleh batang, cabang, ranting, daun, bunga dan buah. Setelah tumbuhan mendapatkan air dan nutrisi, maka tumbuhan akan tumbuh menjadi besar dan rindang.
Sari Timbul: mengharapkan siapa saja yang memasuki tempat ini agar tidak pernah lupa akan akar kehidupan mereka yaitu orang tua kita.
Pohon – Pohonan:
Pohon-pohonan melambangkan dari Kehidupan, Kesuburan, pengayoman dan keteduhan. Disini Sari Timbul berharap agar kita Belajar dari filosofi pohon, selayaknya sebagai seorang insan berakal untuk pandai mempelajari dan mencari hikmah atas penciptaan kita dalam kehidupan, seorang manusia ditugaskan untuk menjadi khalifah dalam hidupnya, kita dituntut untuk hidup layaknya pohon, berjuang untuk bertahan namun di sisi lain memberikan penghidupan dan naungan bagi makhluk lainnya. Mewujudkan suatu keseimbangan dan keselarasan dalam alam. Lakukan dan kerahkanlah upaya terbaik yang bisa kita lakukan dalam hidup. Dedikasikan hidup kita dengan penuh keikhlasan untuk bisa berguna dan bermanfaat.
Kolam dan Air Mengalir:
Kolam dan Air Mengalir Melambangkan Bapak Akasa, yang turun sebagai air mengalir menyuburkan se isi bumi (Ibu Pertiwi). Air mengalir juga sebagai perlambang kekuatan pantang menyerah.
Sari Timbul mengharapkan, siapa saja yang memasuki tempat ini agar bisa memiliki Prinsip jalani hidup seperti air yang mengalir, mencerminkan pribadi yang pantang menyerah dan berpendirian. Seperti air yang terus mengalir meski banyak rintangan yang menahan alirannya, ia akan terus mencari jalan keluar, sekecil apa pun.
Mengapa “ibu pertiwi”?
Ibu, dalam berbagai kebudayaan, memiliki arti dan nilai penting. Bahasa Indonesia sendiri melekatkan kata “ibu” pada metafora yang mengandung makna “inti atau yang utama di antara beberapa hal. Ibu memiliki nilai sakral karena menjadi satu-satunya pintu bagi lahirnya kehidupan. Kita bisa menelusurinya bukan hanya dari ajaran Hindu, tapi juga kebudayaan Mesopotamia yang mengenal Ishtar sebagai dewi kehidupan.
Dalam Karya Seni Ibu Pertiwi ini, Sari Timbul mengharapkan siapa saja yang memasuki tempat ini Ingat dengan orang tua kita, dalam karya ini digambarkan dengan patung Ibu Pertiwi dan Air yang mengalir (Bape Akasa Ibu Pertiwi), selain itu juga kami mengharapkan siapa saja yang memasuki tempat ini bisa merasakan kenyamanan dan kasih sayang Alam (Ibu pertiwi).
Ibu Pertiwi Bersabda, “Ingat Kalian Bukanlah Tuanku, kalian adalah Tamuku, Jadi Rawatlah Bumi ini agar kelak anak cucu Kalian melihat keindahan Bumi ini”.
